Unbreakable – Chapter 5

Pacar?

“Bokap lo nggak galak kan rip?”
Fani bertanya ke gua dari boncengan sepeda motor. Sementara gua nggak langsung menjawab, hanya tersenyum. Yang gua yakin senyuman tersebut nggak mungkin dilihatnya dari posisi duduknya saat ini.

“Liat aja ntar…” Gua menjawaab beberapa saat berselang.

Prediksi gua, Bokap bakal menerima Fani dengan tangan terbuka. Pertama, karena Fani terlihat seperti gadis ‘pribumi’ pada umumnya (hanya lebih cantik) dan yang kedua; (Walaupun belum bisa baca Quran) at least she is moslem. Sesuatu yang menjadi hambatan Marcella untuk masuk kedalam keluarga gua, dulu.

“Takut gue kalo bokap lo galak…” Fani menambahkan.

“Nggak, biasa aja… ya, kayak bapak-bapak kebanyakan aja…” Gua menjawab, memberi sedikit kisi-kisi personal bokap kepada Fani.

“Kalo nyokap, gimana?” Fani kembali bertanya

“Ya biasa aja, kayak ibu-ibu kebanyakan…” Gua menjawab singkat.

“Oke… jawaban yang spesifik dan sangat membantu sekali…” Fani merespon jawaban gua dengan sebuah Majas Ironi.

“Beli martabak dulu kali ya, rip…”

“Buat siapa?” Gua bertanya.

“Ya buat nyokap sama bokap lo…”

Gua hanya terdiam. Sedikit aneh sih, cewek datang kerumah cowok sambil bawa martabak. Ini seperti membalik stereotyping orang-orang Indonesia pada umumnya. Dimana cowok yang ‘ngapel’ kerumah cewek sambil bawa martabak; item sogokan dimasanya.

“Tuh.. tuh.. tukang martabak…” Fani menepuk pundak gua kemudian menunjuk ke arah gerobak martabak yang berada disisi jalan, tepat dipelataran parkir gerai mini market, nggak begitu jauh dari rumah gua.

Gua lalu memperlambat laju sepeda motor dan menghentikannya tepat didepan gerobak martabak. Fani turun dari boncengan, ia menghampiri si abang penjual martabak, terjadi sedikit pembicaraan, yang sudah pasti bukan proses tawar-menawar, kemudian ia duduk di bangku plastik yang terletak di depan gerobak martabak. Ia duduk sambil memeluk helm yang sebelumnya ia kenakan.

Malam itu angin berhembus agak sedikit ‘ngebut’ dari biasanya. Beberapa kali Fani terlihat membetulkan posisi poni rambutnya yang tersapu angin. Wajah mungilnya yang tanpa make-up berlebihan terlihat begitu serasi dengan potongan rambut barunya yang kali ini dipotong pendek, diatas bahu. Dengan hoodie biru dan celana ‘Ripped jeans’-nya semakin membuatnya tampil menarik.

“Sini…” Fani memanggil gua yang memang berniat menunggu sambil duduk diatas motor. Ia menepuk kursi plastik kosong disebelahnya. Gua lalu melepas helem yang masih terpasang, memastikan motor dalam posisi aman lalu duduk tepat diatas kursi plastik tersebut.

“Kayak mau ujan yah… anginnya kenceng…” Fani membuka obrolan.

“Iya, mana jas ujan cuma satu…”

“Emang masih jauh…”

“Nggak sih, paling tinggal sekilo…”

“Oh, itumah deket, kalo ujang nggak usah pake mantel juga gapapa…” ujarnya.

“Yee.. kalo ujan deres biar kata cuma semeter juga basah kuyup…”

“Ya kan lo bisa balik dulu, ntar jemput gue pake payung…”

“Iya…”

Belum kering bibir gua berucap. Tetesan air mulai turun, lalu disusul suara gemuruh dari kejauhan dan hujan pun turun. Deras, tanpa ampun. Sontak kami pun berlari kecil menuju ke arah teras mini market yang berada tepat dibelakang posisi kami duduk. Sementara si abang tukang martabak yang tengah memproses pesanan milik Fani, menjeda sesaat pekerjaannya untuk memasang terpal biru sebagai atap darurat.

“Tuh kan, beneran ujan…” Fani bicara, ia berdiri disebelah gua, masih sambil memeluk helm.

“Yaudah gue balik dulu ambil jas ujan ya, lo tunggu sini dulu…” Gua bersiap menerobos hujan sambil mengenakan kembali helm. Fani dengan cepar meraih lengan gua; “Ntar aja, tunggu dulu, siapa tau cuma sebentar ujannya…”

“Kalo ujung-ujungnya harus ujan-ujanan, kenapa harus nunggu… Udah lo tunggu sini, sebentar…”

“Ish… sabar kenapa…” Ia bergegas, tangannya masih menggenggam lengan jaket gua.

Gua terdiam dan mengamini permintaannya.

Menit berikutnya, sebuah suara memanggil nama gua, suara yang cukup mengejutkan.

“Rif… ngapain?”

Gua dan Fani menoleh bersamaan, kearah sumber suara. Bokap gua berdiri didepan pintu mini mart, sambil membawa kantung plastik kecil berlogo mini mart tempat kami berteduh.

“Lah, bapak ngapain?” Gua balik bertanya ke bokap, yang berjalan menghampiri kami. Mendengar ucapan gua barusan, air muka Fani berubah. Ia terlihat lebih terkejut dari gua.

“Abis beli pulsa, sekalian beli larutan buat ibumu…” Bokap menjawab sambil mengangkat tentengan plasiknya. Ia lalu melirik ke arah Fani yang masih mengenggam lengan gua, pandangannya menyiratkan sebuah pertanyaan; ‘siapa?’

Seakan tau arti dari pandangan bokap, gua lalu memperkenalkan Fani kepada beliau; “Fan, ini bokap…”

Fani yang masih tampak terkejut lalu dengan sigap merubah air mukannya, menjadi ramah. Sambil mengumbar senyum terbaiknya ia meraih tangan bokap kemudian menciumnya.

“Halo Om, aku Fani…”

Bokap nggak menjawab, ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Raut wajahnya menunjukkan penerimaan yang layak, hal yang tak ia berikan saat pertama kali bertemu dengan Marcella.

“Udah lama?” Bokap bertanya.

“Apanya Om?” Fani balik bertanya.

“Nunggu disininya?”

“Oooh, lumayan om, tadi lagi beli martabak, eh ujaan…”

“Oo.. beli martabak juga?” Bokap kembali bertanya, kali ini gua yang langsung menjawab; “Iya, lah bapak juga lagi beli martabak?” kemudian dijawab dengan anggukan kepala. Melihat responnya tersebut, gua dan Fani saling bertatapan.


Nggak sampai lima belas menit, hujan perlahan mulai mereda. Selama lima belas menit tersebut, kami menunggu dalam diam. Beruntung ada seorang tetangga yang sekaligus teman bokap berada di tempat yang sama dengan nasib yang sama; berteduh. Jadinya, gua dan Fani nggak terjebak dalam situasi awkward terlalu lama, karena bokap pada akhirnya sibuk ngobrol ngarol ngidul dengan temannya tersebut.

Si abang tukang martabak, berjalan cepat ke arah bokap, lalu memberikan tentengan plastik berisi martabak ke arahnya. Bokap merogoh baju koko-nya dan mengeluarkan lembaran uang 50 ribuan, menyerahkannya kepada si abang tukang martabak.

“Udah ntar sama Arif aja…” Gua bicara kepada bokap. Dengan sigap, bokap menarik kembali lembaran uang miliknya dan memasukkannya kembali ke saku baju koko.

“Tuh, nanti dibayar anak saya…” Bokap bicara ke arah si abang Tukang Martabak. Sementara si abang tukang martabak meresponnya dengan mengangkat jempolnya kemudian kembali ke gerobaknya.

“Bapak duluan ya neng…” Bokap lalu pamit ke Fani. Ia kemudian duduk di boncengan motor temannya yang sedari tadi menemaninya ngobrol sambil berteduh. Gue manatap Fani, yang terlihat sumringah; “Padahal gua lho anaknya… kenapa pamitnya sama elo”

Si abang tukang martabak lalu meberikan tanda ke Fani bahwa martabaknya pesanannya sudah selesai.

“Nih, fan duit-nya…” Gua mengeluarkan dompet dari dalam saku.

“Udah pegang aja…” Ia menepis tangan gua kemudian berlalu ke arah gerobak martabak dan menyelesaikan pembayaran pesannnya (plus pesanan bokap).


Beberapa menit berikutnya, kami sudah berada dirumah. Pun sudah bertemu dengan bokap, Fani terlihat nervous. Hal ini tergambar dari gelagatnya yang tampak sedikit aneh; “Rip, rambut gue basah banget yah?”, “Rip, make-up gue ketebelan nggak sih?”, “Pantes nggak sih gue bawa martabak doang, which is kita tau bokap lo udah beli martabak?”, “Gue nggak bakal dites ngaji kan rip?” dan banyak pertanyaan aneh lainnya yang ia lontarkan sejak dari tukang martabak sampai disini, dipekarangan rumah gua.

Gua mengangak tangan, membentuk simbol ‘OK’ dengan menyatukan telunjuk dan ibu jari; “You’re perfect to me”

Fani lalu tersenyum, kemudian mengangkat ibu jarinya ke atas.

Belum sampai gua dan Fani ke muka rumah, pintu depan terbuka disusul dengan munculnya nyokap yang dengan senyum sumringah menyambut anaknya. Iya, maklum, sejak gua nge-kost karena pindah kerja, jadi jarang pulang.

“Keujanan?” ibu bertanya.

“Nggak, tadi nedih dulu didepan…” Gua menjawab, sambil membuka ikatan sepatu. Sementara Fani masih berdiri terdiam disebelah. Gua lalu memberikan kode dengan sebuah kerlingan mata agar Fani lebih dulu menghampiri nyokap.

“Halo tante, aku Fani…” Fani meraih tangan ibu dan mulai menyalaminya.

“Duh cakep amat kamu…” Ujar nyokap sambil mengusap rambut Fani.

“Ini tan, cobain martabak…” Fani menyodorkan bungkusan berisi martabak ke arah nyokap.
“Wah, dek… kalo mau main mah main aja, nggak usah pake bawa-bawa ginian segala, ngerepotin…” Ujar nyokap dengan bahasa penolakan yang amat halus namun tetap menerima, sebagai tanda penghargaan terhadap tamunya.

“Nggak kok tan, tadi belinya sekalian neduh.. trus ketemu sama Om juga…”

“Iyaa, tadi bapak cerita, ketemu sama Arif… Tapi nggak cerita kalo Arif sama kamu…” Nyokap menjelaskan, kemudian mempersilahkan Fani untuk masuk.

Gua menyalami nyokap kemudian bergegas kekamar untuk mandi dan ganti baju. Nggak lama berselang (Setelah mandi koboi), gua menuju keruang tamu dan nggak menemukan siapa-siapa, kecuali tas kecil milik Fani yang ditinggalkan di sofa tamu. Lalu terdengar suara tawa dari arah dapur, gua lalu bergegas menuju ke dapur. Sesampainya di dapur terlihat, Fani tengah berbincang dengan nyokap dan bokap sambil duduk dimeja makan; “Wow sangat diterima sekali bocah ini, oleh keluarga gua yang kolot..” Ujar gua dalam hati.

Dari sisa obrolan yang gua tangkap, sepertinya Fani sudah membeberkan rahasia tentang bagaimana ia nggak bisa ngaji kepada bokap. Like i’ve said before, Fani merupakan tipikal orang yang ceria, mampu mencairkan suasana dan mudah bergaul. Terbukti hanya butuh waktu beberapa menit, bokap dan nyokap sudah dibuat luluh hatinya.

“Iya nanti minta ajarin sama Arif… ngaji mah gampang… yang penting islam aja dulu…” Ujar bokap kepada Fani. Ucapannya mengandung sebuah sindirian, dan gua tau kepada siapa sindirian tersebut dialamatkan.

“Bapak asli mana?” Bokap lalu bertanya ke Fani.

“Bapak asli jawa, kalo ibu orang sunda, Om..” Fani menjelaskan, lalu direspon dengan anggukan yakin bokap.

“Trus ini masih temenan aja sama arif atau gimana?” Bokap kembali bertanya. Pertanyaan bokap lalu disusul tepukan lembut dari nyokap yang menganggap pertanyaan seperti ini kurang sopan ditujukan kepada Fani.

Fani lalu memandang gua sambil tersenyum, kemudian ia bicara; “Ngga tau nih Om…”

“Kita ini sebenernya apa sih rip?” Fani lalu bertanya ke gua. Seisi ruangan mendadak hening.

Gua menggaruk kepala, bingung ingin menjawab apa.

“Maunya apa?” gua menjawab pertanyaan Fani dengan sebuah pertanyaan.

“Pacar…” Fani menjawab lugas.

“Tuh, rip… udah buruan nikahin dah…” Ujar bokap berkelakar. Mendengar ucapan bokap, gua langsung mengalihkan pandangan ke Fani, yang terlihat cukup shock.

“Becanda-becanda…” Ujar Bokap

“Belajar solat ama ngaji aja dulu, sambil pendekatan, pacaran boleh tapi jangan yang aneh-aneh lho ya…” Bokap menambahkan.

“Iya om…” Fani mengiyakan, matanya menatap gua penuh harap.

Sementara dari rumah bang Ayung, tetangga sebelah, sayup terdengar lagu Aku Disini Untukmu-nya Dewa-19 mengudara.

Pastikan kau jawab semua ragu dicintamu…, Aku disini untukmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *