Unbreakable – Chapter 5

Used to Love Her

“Trus kapan gue boleh maen beneran ke rumah lo?”
Gua membuka obrolan di perjalanan mengantarkan Fani pulang sehabis ‘apel’ dirumah gua.

“Lah waktu itu kan udah pernah…” Fani memberi jawaban. Merujuk kejadian saat gua mengantarkannya pulang beberapa bulan yang lalu, saat gua hanya bisa berdiri sebatas pagar rumahnya.

“Apaan… cuma sampe pager doang…”

“Iya, iya… nanti kalo ada bokap, lo mampir…” Fani memberi harapan.

Ya, sejatinya untuk saat ini nggak ‘perlu-perlu’ amat sih untuk bisa beneran ‘maen’ kerumah Fani. Hanya aja, seperti ada yang sedikit mengganjal saat si cewek udah pernah maen kerumah dan diperkenalkan sama orang tua lu. Sementara, lu sebagai cowok belum pernah sekalipun berkenalan, atau bahkan bertatap muka dengan orang tua si cewek. Pernah sih ngeliat sekilas, waktu gua ketemu Fani pertama di belakang kantor dulu. Kala itu, ia dijemput olah bokapnya dengan motor. Itupun hanya terlihat sekilas.

Lumrahnya, dalam ‘budaya modern’ Indonesia, sosok cowok yang lebih dulu mengenal pihak keluarga si Cewek. Bukan sebaliknya seperti yang sekarang ini gua alami.

“Eh tapi jangan sekarang deh…”
“Lah, gimana sih?” Fani memprotes, suaranya terdengar samar dari boncengan belakang sepeda motor gua yang tengah melaju dijalan raya ciputat.

“Nggak enak, gue lagi pake celana pendek…”

“Lagian kenapa pake celana pendek…”

“Biar adem…”

“Gapapa, bokap gue mah nyantai rip…”

“Nyantai sih nyantai, tapi bokap lo kan plokis (polisi)… ntar gue ditangkep…”

“Ya kaleee ada polisi nangkep orang gara-gara pake celana pendek…”

Beberapa saat berikutnya, sepede motor yang kami tumpangi tiba di muka komplek tempat tinggal Fani. Gua menghentikan motor dan membuka helm.

“Lho kok berenti disini?” Fani bertanya, sambil berusaha melepas strap helm.

“Gue kok jiper yak…”

“Yaelah, udah sih biasa aja, kayak mo ketemu presiden aja lo..” Fani mencoba memberi pengertian, sambil memberi aba-aba dengan tangannya untuk melanjutkan laju motor.

Gua menarik nafas dalam-dalam kemudian melanjutkan perjalanan yang hanya tersisia beberapa puluh meter saja. Yang ada dibenak gua, bokapnya Fani itu, pendiem, sangar dan ganas. Trus tau, kalo anaknya gua pacarin, bokapnya nggak terima, ngamuk, ambil pistol dan gua di dor! Membayangkannya aja gua udah bergidik! Hiii…

Menit berselang, kami sudah tiba persis di depan rumah Fani. Pagar besi rumahnya sedikit terbuka, dari celah yang terbuka terlihat sekilas sebuah sepeda motor bebek, yang tebakan gua adalah milik bokapnya. “Duh, udah pulang lagi bokapnya” gua membatin dalam hati.

Fani turun dari boncengan, meletakkan helm yang sejak tadi sudah ia lepas diatas spion. Ia berdiri dengan tangan tersilang didadanya, menunggu gua yang terlihat dengan sengaja mengulur-ulur waktu, seperti pemain sepak bola di injury time dikala timnya unggul. Nggak sabar, ia lalu menarik lengan gua dan membawanya masuk melewati celah pagar yang sedikit terbuka.

“Eh papah udah pulang…” Fani bicara ke seorang pria setangah baya yang tengah duduk di bangku besi diteras. Pria tersebut terlihat dingin, dengan kumis tipis, rambut belah pinggirnya, ia menjawab dengan senyuman yang seperti membunuh.

Mata Orang yang dipanggil papah oleh Fani tersebut lalu melihat ke arah tangan anak gadisnya yang masih menggandeng lengan kanan gua. Ia lalu berdiri, meletakkan ponsel yang sejak tadi ia pandangi, disusul kacamata baca-nya yang terlihat sangat klasik keatas meja, tepat disamping segelas besar teh yang sepertinya belum diminum.

Walaupun sudah terlihat cukup tua, namun dari postur tubuhnya terlihat bahwa pria ini dimasa mudanya pasti punya badan yang atletis dan cukup prima. Otot-ototnya masih terlihat menonjol walaupun tak lagi perkasa, namun aura kekekarannya masih terpampang nyata. Hanya dengan kaus dalam berwarna putih dan selembar sarung kotak-kotak hijau ia lalu berjalan mendekat.

“Pah, kenalin ini Arif…” Fani memperkenalkan gua ke papahnya.

Gua lalu menyodorkan tangan, menawarkan perdamaian eh perkenalan.

Sodoran tangan gua disambutnya dengan sigap. Tangannya dingin, sedingin pandangannya, bahkan genggamannya hampir saja meremukkan jari-jari gua; “Arif, Om..” Gua memperkenalkan diri.

Ia lalu tersenyum, masih senyum yang sama yang ia tampilkan tadi, kemudian ia menyebutkan namanya; “Marsidi”

“Arif boleh masuk kan pah?” Fani bertanya. Sementara yang ditanya nggak merespon, ia berpaling lalu berjalan kearah kursi dan kembali duduk.

“Boleh pah?” Fani kembali bertanya. Butuh waktu hampir semenit hingga akhirnya, Si papah memberi isyarat dengan anggukan kepala.

Fani lalu menggandeng gua untuk masuk kedalam rumahnya.

Selangkah sebelum gua memasuki rumah, tepat saat berada disisinya, Si papah lalu buka suara: “Sini duduk…” Tangannya menepuk kursi kosong tepat disebelahnya.
Gua dan Fani saling tatap, kemudian Fani memberikan kode agar gua menuruti permintaannya.

Gua berjalan memutari meja bundar dihadapannya, karena enggan melintas tepat didepan si papah lalu duduk perlahan dikursi tepat disebelahnya. Dari sudut mata, terlihat Fani mengintip dari jendela dalam rumahnya, ia tersenyum kemudian mengangkat ibu jarinya, seakan-akan memberikan isyarat: “Semoga beruntung”

Kami terdiam cukup lama.

Buat gua sendiri, ini merupakan pengalaman pertama gua berhadapan dengan orang tua pacar. Saat dengan Marcella dulu, gua hanya ‘sempat’ bertemu dengan Opa-nya, itu pun orangnya ramah banget luar-dalem.

“Kerja?” Si papah, (kayaknya mulai sekarang kita sebut aja Om Marsidi kali yah) bertanya, singkat.

“Iya, pak…” Gua menjawab tak kalah singkat.

“Dimana?”

“Di BSD, Om…” Gua kembali menjawab kali ini dengan sebutan Om, dan kayaknya lebih enak didengar.

“Oh..”

Kemudian kami kembali terdiam cukup lama. Dalam hati gua mengutuki Fani yang tak kunjung keluar untuk mencairkan suasana.

“Tinggal dimana?”

“Di kebon jeruk Om…Tapi sekarang nge-kost”
Setiap jawaban yang gua berikan selalu disertai dengan senyuman dan gestur mengusap-usap telapak tangan diantara gua kaki. Persis kaya maling ayam lagi di interogasi massa di aula RT.

“Kost dimana?”

“Disini Om, deket…” Gua menjawab sambil menunjuk asal.

“Oh…”

Perbincangan yang sangat interaktif tersebut lalu terhenti begitu Fani keluar. Kali ini ia sudah berganti pakaian. Ia mengenakan T-Shirt putih berlengan panjang dengan sablonan ‘God save the Queen’ yang terlihat sudah hampir pudar dengan hot pants biru berbahan denim. Melihat tampilan Fani yang sekarang sungguh suatu yang ‘berbeda’, ia terlihat lebih muda dan lebih ‘manja’.

Om Marsidi mengalihkan pandangannya dari ponsel ke Fani. Menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Emang nggak punya celana lain?” Om Marsidi buka suara.

Fani yang baru saja hendak duduk, menghentikan aksinya. Lalu kembali beranjak kedalam. Beberapa menit kemudian, ia kembali. Masih dengan T-Shirt yang sama namun kali ini dengan celana pendek selutut. Ia lalu duduk tepat diseberang gua, mengangkat kedua kakinya, hingga dagunya bisa ia sandarkan di lututnya.

“Ini Hape saya lemot banget kenapa ya? kamu ngerti nggak?” Om Marsidi tiba-tiba buka suara dan mengarahkan layar ponselnya ke arah gua.

“Wah, mungkin kebanyakan aplikasi kali om…” Gua menjawab asal.

“Nggak kok, saya kalo mau buka yutup, nonton wayang suka loding terus…”

“Itu mah emang sinyalnya jelek pah, bukan hape-nya…” Fani mencoba memberikan penjelasan. Yang tak digubris oleh papahnya.

Om Marsidi lalu menyodorkan ponselnya ke gua; “Coba liatin..”

“Hah…” Setengah terkejut, gua lalu meraih ponsel milik-nya, mencoba mengutak-atik settingan ponsel yang memang terlihat biasa-biasa saja. Tak ada kesulitan saat membaca huruf di ponsel milik Om Marsidi, pertama; karena gua sudah hafal persis lokasi settingan dan letaknya dan kedua; karena Om Marsidi menggunakan fontyang luar biasa besar pada ponselnya. Setelah utak-atik sebentar, gua nggak menemukan kejanggalan atau aplikasi yang berlebihan dan menurut gua, ponsel ini masih berjalan lancar.

“Ini normal kok om, mungkin emang sinyalnya yang jelek kali…” Gua mencoba memberikan penjelasan.

“Oooh gitu… berarti harus ganti kartu ya kalo gitu?” Ia bertanya.

“Kayaknya iya deh, Om…”

Om Marsidi merespon jawaban gua dengan anggukan. Ah, sepertinya suasana sudah mulai mencair.

Beberapa saat kemudian, seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah, sembari membawa segelas besar teh hangat yang ia letakkan diatas meja.

“Mah, ini kenalin Arif…” Fani lalu memperkenalkan wanita tersebut yang ternyata adalah ibunya.

Gua menyalami si Ibu lalu berdiri, memberikan tempat duduk gua kepadanya. Yang memang hanya tersedia tiga kursi. Alih-alih menerima tawaran gua, si Ibu malah menepuk lembut pundak Fani, memberikan isyarat untuk berpindah.

Fani berdiri dan bersandar dilengan kursi tempat gua duduk.

“Di minum rip…” Si Ibu mempersilahkan (Mulai sekarang kita panggi Tante aja biar asik)

“Iya tante..”

“Udah lama kenal sama Fani?” Tante membuka obrolan.

“Udah tante, kenalnya mah udah dari waktu kuliah dulu…”

“Oh, sekarang kerja dimana?” Ia menambahkan. Belum sempat gua menjawab, Om Marsidi lalu menyerobot: “Di BSD…”
“Oh, BSD deket itumah dari sini…”

“Iya makanya dia ngekost deket sini…” Om Marsidi mewakili gua menjawab.

“Emang rumahnya dimana?” Tante kembali bertanya dan kembali Om Marsidi yang menjawabnya; “Di kebon jeruk…”

Om Marsidi kemudian menyeruput teh miliknya, menatap kearah Fani kemudian beralih ke istrinya; “Mah, itu celana-celananya si dede yang pendek-pendek dibuang-buangin aja…”

“Ish jangan…” Fani menyela

“Itu celana yang saking pendeknya apa kancut yang kepanjangan?”

“Papah nggak ngerti model…” Fani menggerutu.

Nggak butuh waktu lama, gua lalu larut dalam obrolan keluarga yang (menurut) gua amat seru. Ternyata, Om Marsidi hanya terlihat garang diluar namun punya kepribadian yang hangat. Mamahnya, yang akhirnya gua ketahui bernama Tante Astari juga tak kalah ramahnya. Hingga tak terasa, jam sudah menunjukkan nyaris jam 11 malam. Gua pun berinisitaif pamit.

“Wah, udah malem, saya pamit ya Om, Tante…”

“Oh iya, rip…” Ujar Tante As

“Salam ya buat bapak sama ibu kamu, tanyain kapan mau main kesininya?” tambah Om Marsidi, yang lalu membuat gua dan Fani kembali saling pandang, kemudian sama-sama tersipu.

Setelah berbasa-basi pamitan, Fani lalu mengantar gua hingga tempat motor gua terparkir.

“Asik kan bokap nyokap gue?” Fani bertanya

“Iya… ternyata nggak se-horor perkiraan gue…”

“Hahaha…” Fani tertawa mendengar statement sarkas gua sambil menjulurkan tangan mencubit pinggang.

“By the way, mantan lo dulu juga ngobrol sama bokap nyokap lo kayak tadi?”

Fani mengangguk; “Tapi ya cuma di teras aja, belum ada satupun yang pernah masuk kedalem rumah”

“Mantan lo juga pernah ngeliat lo pake hotpants kayak tadi?” gua kembali bertanya.

“Iya… kenapa? cemburu yah?” Fani menjawab sambil meledek gua.

“Nggak…” Gua merespon kalem.

Saat tengah memasang helm, tiba tiba Fani mengecup bibir gua, kemudian berbalik, berjalan cepat kembali kerumahnya. Samar terdengar, ia mengucapkan ‘hati-hati dijalan’

Kejadian sebelum pulang tadi sungguh cepat dan tak terduga. Alhasil, membuat gua senyum-senyum sendiri sepanjang perjalan pulang. Sampai dirumah, gua duduk ditepi kasur, menatap status social media milik Fani yang bertuliskan: ♪ Now playing: Ungu – Ciuman Pertama ♪

Gua mengeluarkan dompet dan membukanya. Gua pandangi cukup lama sebuah foto usang, dua muda-mudi yang terlihat ceria dengan pandangan semesta akan mendukung cinta mereka berdua dimasanya. Perlahan gua tarik foto usang tersebut, dan meletakkannya dalam sebiah kotak kaleng bekas biskuit temoat gua menyimpan benda-benda kecil berharga lainnya.

“There was a time, time that i’ve used to love her”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *