Unbreakable – Chapter 5

Kaulah Yang Diinginkan Aku

“Rif, ini kok Om mau nyetel lagu nggak bisa kenapa ya?”
Om Marsidi bertanya ke gua sambil menyodorkan ponselnya.

Beberapa minggu setelah ‘kunjungan’ pertama gua kerumah Fani, dan ini merupakan ‘kunjungan’ gua yang kesekian kalinya. Om Marsidi semakin menunjukkan keramahan-nya ke gua.

Gua meraih ponsel yang ia sodorkan, berpura-pura utak-atik sebentar kemudian gua restart. Entah kenapa, cara tersebut (restart) selalu membuahkan hasil yang diinginkan oleh Om Marsidi, apapun permasalahan pada Ponselnya.

Pernah suatu ketika, ponsel yang ia gunakan freezing, gua restart. Lemot, gua restart, nggak muncul suaranya; restart dan ini yang terakhir; nggak bisa ‘playback’, gua restart.

“Lagi hape dipake nonton wayang mulu semaleman suntuk…” gumam Fani, begitu muncul dari dalam rumah.

“Yuk rip…” Fani mengambil ponsel papahnya dan menyerahkannya kepada si empunya. Kemudian ia meraih lengan gua.

“Pulangnya jangan malem-malem ya rif…” Ujar Om Marsidi dari balik pagar besi rumahnya. Sementara gua merseponnya dengan mengangkat ibu jari keatas “Sip Om…” dari atas motor.

“Kemaren, bokap lagi ngobrol sama temennya di teras.. trus temennya cerita kalo hapenya dia juga sering lemot…” Fani mulai bercerita

“Trus…” Gua penasaran

“…Bokap manggil gua, trus suru nelpon elu…” Tambah Fani

“Lah, kok gua?”

“Iya, dipikirnya, didunia ini cuma elo doang yang bisa benerin hape…”

“Anjay…”

“Trus.. mmm.. by the way, ini kita mau kemana yah?” Tanya Fani dari boncengan sepeda motor.

“Nggak tau, terserah lo aja..” Gua menjawab, mengangkat kedua bahu.

“Nonton aja, mau nggak?”

“Boleh-boleh…” Gua menjawab antusias.

Tanpa perdebatan, tanpa adu argumen, seperti kebanyakan pasangan saat si cowok atau ceweknya bilang terserah. Kami akhirnya memutuskan untuk menghabiskan ‘malam-minggu’ dengan nonton. Fani, entah alasannya apa, memilih salah satu mall dibilangan Jakarta Selatan.

Puluhan menit berikutnya, gua dan Fani tiba di depan sebuah bangunan super megah. 3 atau 4 lantai bagian bawahnya terdapat gedung luas lokasi perbelanjaan, sementara persisi dibelakangnya menjulang dua gedung serupa menara yang merupakan apartemen. Dan seakan melengkapi fasilitas yang diinginkan masyarakat ‘hedon’ Jakarta, sebuah gedung pusat perkantoran juga berdiri kokoh tepat disisi mall.

Uniknya, mall ini selalu berhasil membangkitkan kenangan gua bersama Marcella. Iya, karena Marcella acap kali mengajak gua kesini. Alasanya: “Mall sini nggak banyak cina-nya” ujarnya kala itu. “Lah, lo kan cina?” gua balik bertanya. “Biar gue jadi cina paling cakep aja…” Jawabnya sepele.

“Lo mau ngopi?” Fani bertanya ke gua yang masih berdiri membatu didepan sebuah kafe yang khas menyajikan beragam kopi. Dari tempat gua berdiri sekarang, terlihat sepasang kursi kosong yang saling berhadapan, sementara sebuah meja bundar berada diantaranya. Disisi kursi-kursi tersebut, terdapat sebuah pagar dengan ornamen kayu yang memisahkan teras milik kafe tersebut dengan common area dimana gua berdiri saat ini.

“Woi.. lo mau ngopi?” Fani mengulang tawarannya sambil mengibaskan tangannya tepat dihadapan gua.

“Eh, nggak..” Gua menjawab, tersadar dari lamunan.

“Trus ngapain bengong, ngeliatin tuh tempat kopi?” Fani bertanya penasaran.

“Gpp..”

“Yuk.. kalo pengen bilang aja sihh…” Fani lalu meraih lengan gua dan menariknya menuju ke kafe tersebut.

Sampai di counter, Fani lalu memesan dua jenis kopi yang berbeda. Selesai melakukan pembayaran, ia kembali menarik lengan gua menuju ke sudut ruangan, dimana terdapat sebuah sofa merah panjang dengan dua sampai tiga buah meja bundar didepannya. Gua dan Fani lalu duduk disana sambil menunggu pesanan kopi selesai. Biasanya di kafe kopi model seperti ini; yang brand dan harga-nya a-la Amerika, tapi biji kopi-nya dari Aceh, pelanggan melakukan pemesanan, bayar, lalu tunggu, nanti nama pelanggan bakal dipanggil, nama pelanggan biasanya ditulis digelas plastik atau kertas kemasanya.

Beberapa menit berikutnya, Nama Fani dipanggil.

“Kak Fani…” Teriak salah satu pelayan dari counter pemesanan.

Gua lalu berdiri bersiap mengambil pesanan, sementara Fani masih asik dengan ponselnya.

Begitu gua tiba didepan counter, mbak pelayan memanggil sebuah nama, sambil melirik ke arah gelas plastik kopi susu dihadapannya. “Kak Marsela…” teriak mbak pelayan.

Deg..

Gua masih berdiri sambil memegang dua gelas kopi milik gua dan Fani. Penasaran dengan siapa sosok yang akan mengambil pesanan kopi atas nama Marsela tersebut.

Mbak pelayan lalu kembali memanggil nama yang berada di gelas tersebut untuk kedua kalinya. “Kak Marsela..”

Gua kembali mendekat ke arah counter untuk melihat tulisan yang tertera pada gelas plastik tersebut; ‘Marcela’. Spontan gua memutar tubuh, mata gua lalu memandang berkeliling, mencari sosok yang mungkin familiar, sosok Marcella. Namun, Nihil.

“Kak Marsela…” Mbal pelayan memanggil untuk yang ketiga kalinya, kemudian ia menyingkirkan gelas plastik berisi kopi susu tersebut, kemudian bergegas memanggil nama lainnya.

“Ah, nama Marcella kan banyak..” Gua menggumam pelan lalu kembali ke tempat dimana Fani duduk.

“Ngapain, rip.. kok tadi gua perhatiin kayak orang bingung…” Fani langsung bertanya begitu gua duduk disebelahnya.

“Gpp…” Gua menjawab, mencoba berlaku senormal mungkin.

“Lo kenapa deh, daritadi kayaknya aneh…” Fani bertanya. Ya, gua memang nggak begitu lihai menyembunyikan sesuatu dan disisi lain Fani sungguh pandai membaca situasi.

“Gpp…” Gua kembali menjawab, kali ini sebisa mungkin terlihat cool.

“Bohong..” Ujarnya, tapi kali ini ua nggak terlalu menanggapi. Santai, Fani kembali tenggelam dalam ponselnya. Sementara gua, masih memandang dari jauh gelas plastik, dengan tulisan Marcela, yang diabaikan pemiliknya.

Beberapa menit berikutnya, gua dan Fani memutuskan untuk langsung menuju ke XXI yang terletak dilantai 2 Mall. Sesaat gua sudah melupakan perkara gelas kopi bertuliskan nama Marcella, namun sebelum keluar dari kafe tersebut, gua masih memastikan kondisi gelas tersebut; masih ada dan belum diambil.

Beberapa langkah kafe, masih penasaran, gua kembali menoleh ke arah counter, yang kebetulan masih terlihat dari tempat gua berdiri. Sosok perempuan dengan rambut sebahu berdiri tepat didepan counter dan mengambil gelas tersebut. Sebelum akhirnya pergi melalui pintu keluar yang langsung menuju ke teras mall, perempuan tersebut sempat menoleh ke arah gua. Sosok yang begitu gua kenali.

“Fan, lo duluan ke bioskop ya…” Gua bicara cepat ke Fani kemudian bergegas berlari mengejar perempuan tersebut.

Menit berikutnya gua sudah berada di teras lobi, dimana perempuan tadi terakhir terlihat. Sambil berjalan cepat gua menyusuri teras tersebut, sementara mata gua mencari-cari ditengah kerumunan orang-orang yang sibuk lalu lalang. Sebagian besar baru saja turun dari kendaran di dropp-point, hendak masuk kedalam mall, sebagian besar sisanya terlihat seperti menunggu jemputan atau rekannya yang tengah mengambil kendaraan di parkiran.

Ponsel gua bergetar; Fani.

“Halo.. Ngapain sih lo?” Ujarnya dari ujung sana.

“Pengen berak…” Gua menjawab asal, sementara mata gua masih menari, mencoba mencari sosok yang gua kenal.

“Ooh.. ngomong dong, gue udah beli tiketnya nih…”

“Yaudah tunggu…” gua menjawab singkat kemudian mengakhiri panggilan.

Masih memegang ponsel, disalah satu pilar besar kanopi lobby mall, sosok Marcella tengah berdiri bersandar disana. Tangan kanannya memegang ponsel yang tengah ia pandangi, sementara tangan kirinya menggenggam kopi susu kesukaannya, wajahnya yang murung terlihat bercahaya, terang akibat sialunya layar ponsel yang masih ia pandangi. Saat ini, rambutnya ia potong sebahu dengan padanan kaos Nirvana hitam, skinny jeans dan chuck taylor 70s, ia tampak luar biasa.

Gua berjalan pelan, mendekat kearahnya. Kemudian mata kami berdua saling bertemu.

Perlahan, suara Armand Maulana seperti menggema dikepala; Terbayang yang terindah, Yang terhampa berlalulah, Sadarku semuanya, Perasaan rasa cinta ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *