Unbreakable – Chapter 5

Dia

Masih memegang ponsel, disalah satu pilar besar kanopi lobby mall, sosok Marcella tengah berdiri bersandar disana. Tangan kanannya memegang ponsel yang tengah ia pandangi, sementara tangan kirinya menggenggam kopi susu kesukaannya, wajahnya yang murung terlihat bercahaya, terang akibat sialunya layar ponsel yang masih ia pandangi. Saat ini, rambutnya ia potong sebahu dengan padanan kaos Nirvana hitam, skinny jeans dan chuck taylor 70s, ia tampak luar biasa.

Gua berjalan pelan, mendekat kearahnya. Kemudian mata kami berdua saling bertemu.

Lama kami berdua saling manatap. Ia masih berdiri ditempatnya, bersandar pada pilar besar, sementara gua berjalan perlahan ke arahnya. Dimata gua, semua orang disekeliling  berjalan sangat lamban, layaknya sebuah scene dalam video musik.

Gua menghentikan langkah saat jarak kami hanya tersisa segapaian tangan. Mata kami berdua masih saling menatap, hingga akhirnya Marcella memalingkan tatapan ke arah layar ponselnya.

“Pacar baru lo?” Ia tiba-tiba bertanya, suaranya terdengar samar. Mungkin karena pengaruh hiruk pikuknya sekitar atau mungkin memang ia sengaja tak ingin terlihat terlalu bersemangat.

“Apa?” Gua balik bertanya, karena nggak begitu mendengar pertanyaannya, seraya mendekatkan wajah ke arahnya.

“Tadi, yang sama lo, pacar baru?” Ia mengulang pertanyaannya.

Kalang kabut mendengar pertanyaannya barusan, gua mendongak, memandang ke arah lain, menggaruk-garuk kepala sambil berusaha mencari padanan kata yang tepat; “Emmm… eee…mmm…”

Belum sempat gua menjawab pertanyaan pertamanya, Marcella kembali buka suara; “Islam?”

“Iya…” Gua menjawab cepat

“‘Iya’ untuk jawaban yang mana?” Marcella kembali bertanya, matanya tetap memandang ke arah layar ponsel.

“Iya dua-duanya?” Gua menjawab pelan, berharap ia nggak mendengarnya lalu mengabaikan jawaban gua barusan.

“Oh…” Marcella merespon singkat.

Ia lalu menatap gua sebentar, kemudian memutar tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan gua.

“Cell… Cella…” Gua berusaha mengejar sambil memanggil namanya, (mungkin) terkejut dengan suara gua yang lumayan lantang, beberapa orang yang tengah lalu lalang menengok ke arah gua.

Ia mempercepat langkah. Namun, gua dengan cepat berlari dan meraih lengannya.

“Cell..” 

“Apa!!” Ia berpaling, kemudian menatap ke arah gua. Matanya mulai berkaca-kaca, kemudian tangisnya pecah. Hal yang tentu saja menarik perhatian beberapa orang yang tengah lalu lalang, beberapa diantaranya bahkan menyempatkan diri untuk berhenti. Menikmati pertikaian kami, yang dianggapnya (mungkin) sebuah hiburan dimalam minggu mereka yang menyenangkan.

Gua masih memegang lengan dan menatapnya, namun nggak tau harus berkata apa. 

“Sorry…” Akhirnya kata maaf terlontar dari mulut gua yang perlahan mulai terasa kelu, perut mual dan keringat dingin mulai terasa mengalir di pelipis mata.

“Gue yang harusnya minta maaf…” Marcella bicara, sambil berusaha melepas gengaman tangan gua. Sementara punggung lengan yang satunya ia gunakan untuk menyeka air matanya yang mulai meleleh dikedua pipinya.

‘Drrrrt’ ‘Drrrt’ ponsel gua bergetar. Gua mengeluarkannya dari dalam saku celana. Di layar tertera nama Fani dan Marcella sempat melihatnya.

“Namanya bagus…” Marcella bicara.

“…”

“Udah cantik, Islam, namanya bagus dan kayaknya pribumi ya rif?” Marcella bertanya, masih sambil terisak, namun sambil berusaha tersenyum. Senyum yang sengaja dipaksakan.

“…”

“Udah ah, gue mo cabut, nyesek banget gue kalo masih disini… udah sono lo temenin si Fani, ntar dia nyari-nyari…” 

“Tapi, gue masih mau ngobrol sama lo..” gua berharap.

Marcella menggelengkan kepalanya.

‘Drrrrt’ ‘Drrrt’ ponsel gua kembali bergetar, dari Fani. Gua lalu menjawabnya, sambil berpaling sesaat dari Marcella. 

“Halo…”

“Dimanaaaa, belom kelar boker?” Fani bertanya diujung sana, suaranya terdengar berbisik, samar terdengar suara menggelar dari belakangnya. Sepertinya ia sudah berada didalam bioskop dan film sudah dimulai.

“Ia bentar lagi…” gua menjawab.

“Gue udah didalam theater 3, lo ntar kalo udah kelar misscall aja, tiketnya sama gue…” Fani memberikan informasi.

“Iyaa…” 

“Buruan…” Ucapnya, kemudian memutuskan panggilan.

Kelar bicara dengan Fani melalui ponsel, gua berpaling ke arah Marcella. Dan ia sudah tak lagi berada ditempatnya. Mata gua mencari-cari ditengah kerumunan orang-orang yang sibuk lalu lalang, tak sesulit sebelumnya, kali ini gua dapat langsung menemukan sosoknya yang tengah berjalan menjauh. Lagi, gua berusaha mengejarnya dengan berjalan cepat.

Menit berikutnya, gua sudah berada di sebelahnya, sambil menyamakan langkahnya. 

“Gua anterin balik?”

Marcella lalu menghentikan langkahnya, mendongak dan menatap ke arah gua; “Gila lo ya…”

“Kenapa?” gua bertanya.

“Lo mau nganter gue, trus tuh cewek lo gimana kabarnya? nungguin cowonya nganterin pulang cewek laen?” Ia bicara. Matanya masih berkaca-kaca si tangisannya.

“Dia bisa balik sendiri kok…” Gua beralasan.

Marcella menggelengkan kepalanya.

“Kenapa sih cell? gue cuma mau ngobrol sama lo…”

“Ngobrol apaan sih rif? kita mau ngomongin apa lagi?”

“Nggak tau, pokoknya ngobrol aja…”

“….” Marcella terdiam nggak merespon.

“Soalnya… emmm…emmmm..” Gua mencoba mencari kata yang tepat.

“…”

“… gue kangen sama lo…” Gua akhirnya mengaku.

Marcella kembali menggeleng, kemudian kembali berjalan. Gua kembali mencoba mengikuti langkah dan berjalan disampingnya. “Udah sono..” Marcella bicara.

Langkah demi langkah, kami berdua berjalan bersisian tanpa bicara. Hingga akhirnya, Marcella menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh ia lalu buka suara; “Kalo lo mau ngobrol sama gue, nomor hape gua masih sama. Sekarang, lo balik aja ke cewek lo, kasian dia nungguin lo daritadi…”

“Tapi, lo janji bakal angkat telpon gue?” Gua memastikan. Lalu dijawab dengan anggukan dari Marcella. Ia terdiam sebentar, kemudian bergegas pergi. Sementara, gua masih berdiri sendiri disini, memandang punggungnya yang mulai menjauh dan perlahan menghilang.


“Lama banget deh…” Ucap Fani, begitu gua bertemu dengannya di pintu masuk bioskop, saat ia mengantarkan tiket ke gua.

“Iya, gue kayaknya nggak enak badan deh nih, mencret-mencret…” Gua berdalih.

“Hah, serius lo..” Fani memastikan, sambil meletakkan punggung tangannya kekening gua. Gua lalu menepisnya; “Emang, kalo orang mencret, jidatnya anget?”

“Oiya… yaudah balik aja yuk kalo gitu…” Ujarnya.

“Yaudah yuk…” Gua mengiyakan, dan memang itu yang gua harapkan.

“Lo masih kuat nganter gue? atau gue balik sendiri aja deh, naik taksi, lo langsung pulang aja, minum obat trus tidur…” Ujar  Fani.

Gua menggeleng; “Nggak papa, lo gue anterin aja..”

“Bener nih? tar malah masuk angin, makin parah…”

“Nggak…” Gua menjawab cepat, lalu mulai menggandeng tangannya, menuju ke parkiran sepeda motor.


“Nih, minum dulu…” Fani menyodorkan selembar obat diare dan segelas air minum kearah gua, begitu kami berdua sampai dirumahnya.

“Ntar aja dirumah…” Gua mencoba menolak.

Fani lalu menyobek kemasan obat diare yang berbentu tablet lalu memaksa memasukkannya kedalam mulut gua.

“Mmmphh… iya, iya, yaudah sini…” Gua lalu menyerah dan mulai meminum obat diare darinya. Entah apa efeknya, jika minum obat diare padahal diare yang gua derita hanyalah kepura-puraan belaka.

“Abis ini langsung pulang, minum aer anget, trus tidur…” Ucap Fani, sambil bertolak pinggang, macam dosen killer yang ngasih deadline tugas.

“Iya…” Gua menjawab cepat, sambil menyalakan motor.

“Kalo udah sampe rumah, kabarin ya…” Ujarnya sebelum gua pergi, ia kemudian melambaikan tangannya.

Ditengah perjalanan, gua menyempatkan diri untuk menepi, kemudian mengeluarkan ponsel, menekan satu persatu nomor Marcella yang memang gua ingat diluar kepala, karena nama dan nomornya sudah dihapus oleh Fani waktu itu.

Beberapa kali nada sambung terdengar, lalu disusul suaranya. Suara yang begitu familiar ditelinga gua bertahun-tahun; “Halo…”

“Dimana?” Gua langsung bertanya.

“Dirumah” Marcella menjawab.

“Grogol?”

“Iya..”

“Gue kesana sekarang…”

“Ya” Jawabnya singkat.

Yess! Gua lalu kembali melajukan motor menuju ke Grogol, Rumah yang sempat ditinggali Marcella sebelum kakeknya meninggal. Sempat terlintas, rasa bersalah yang amat besar begitu teringat perihal kebohongan perkara diare yang gua utarakan kepada Fani. Tapi, entah kenapa rasa bersalah ini seperti tertutup oleh rasa kangen yang luar biasa, ingin bertemu dengan Marcella. 


Begitu, tiba di gang utama menuju rumah Marcella, cahaya terang menerawang dari arah gang. Ternyata, dilokasi tersebut saat ini tengah ada ‘pasar malam’. Pasar malam, di Jakarta, layaknya ‘pasar kaget’ di beberapa daerah di Indonesia. Dimana, kedua sisi jalan digunakan oleh para pedagang ‘nomaden’ yang menjajakan dagangannya. Isinya, ya mirip dengan seperti yang ada di pasar pada umum-nya, hanya lokasinya saja yang ‘seperti’ dipindahkan. Pasar Malam model begini biasanya diadakan sekali seminggu, dimulai sejak ba’da Magrib dan biasanya berakhir sebelum jam 12 malam. Para pedagang yang ‘beraksi’ disini, biasanya wajah-wajah lama yang berkeliling dari satu pasar malam ke pasar malam di lokasi lain. Uniknya, pasar model beginian, nggak hanya menjual aneka pakaian hingga makanan. Biasanya ada pula yang menyajikan wahana mainan anak-anak a-la dunia fantasi, namun dengan versi low-budget tentunya.

Dan ternyata, saking ramainya pasar malam tersebut, motor pun nggak bisa melewati gang ke arah rumah Marcella. Terlihat, sebuah bangku kayu diletakan ditengah gang, memberi tanda bahwa jalan tersebut di blok untuk sementara.

Gua lalu menelpon Marcella; “Ini ada pasar malem, gue nggak bisa lewat…”

“Yaudah lo tunggu, gue aja yang kesana…”

Selesai melakukan panggilan, seorang pemuda dengan seragam sebuah Ormas betawi menghampiri gua dan memberikan saran agar gua memarkirkan motor ke tempat yang telah disediakan oleh pengelola, atau disediakan Ormas lebih tepatnya. Selesai parkir motor pemuda tersebut kemudian, mengadahkan tangan, sambil memberikan kode angka 5 dengan jarinya. Iya, ini metode pungli baru di Jakarta.

Selepas dari parkiran sepeda motor yang sepertinya didirikan darurat dari kebon kosong milik warga. Gua mulai berjalan menyusuri gang dimana Pasar Malam diadakan. Barulah gua mulai melangkah, sosok Marcella terlihat muncul dari keramaian, ia melihat ke gua dan mulai menghampiri.

Marcella tak lagi mengenakan outfit yang tadi ia pakai saat berada di mall. Saat ini, ia mengenakan Sweater light pink dengan sablonan logo Weezer didepannya, sementara celana denim selutut dan sendal jepit swallow terlihat serasi dengan rambut pendeknya yang ia biarkan tergerai.

“Cewek lo?” Tanyanya begitu bertemu.

“Udah gue anterin balik..” Gua menjawab.

“Lo Boong apa?” 

“Gue nggak boong..”

“Trus lo bilang kalo mau ketemu gue?”

“Nggak lah..”

“Trus…”

“Gue bilang lagi mencret…”

Mendengar jawaban gua, Marcella terlihat menahan tawa sambil menutup bibirnya dengan tangan.

“Ya itu namanya boong…” Ujarnya.

“…”

“Udah mulai belajar boong lo sekarang..” Tambahnya.

“Gue kangen banget sama lo, sumpah!”

Mendengar ucapan gua barusan, ia lalu tersenyum. Kemudian mendekatkan bibirnya ke kepala gua, lalu berbisik. “Telpon cewek lo, bilang lo udah sampe rumah dan udah minum obat, karena kalo gue ada diposisi cewek lo sekarang, gue pasti lagi cemas-cemasnya nunggu kabar dari lo…”

Belum kering bibirnya bicara, ponsel gua berdering, dari Fani. Gua merejectnya, kemudian mulai mengiriminya pesan. “Gue baru sampe, udah minum obat lagi, dan ini mau tidur…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *