Unbreakable – Chapter 5

Naif

Belum kering bibirnya bicara, ponsel gua berdering, dari Fani. Gua merejectnya, kemudian mulai mengiriminya pesan. “Gue baru sampe, udah minum obat lagi, dan ini mau tidur…”

“Okey, Istirahat yah.. jangan sakit plisss…” Balas Fani semenit berselang.

Gua membacanya, sambil menatap Marcella yang berdiri disebelah gua, tenggerokan gua tercekat. “Jahat banget gua” Gua membatin.

The otherside of me also; “Yang penting ketemu Marcella!”

Sementara gua memasukkan ponsel kedalam saku celana, Marcella mulai berjalan pelan menuju ke kerumunan pasar malam. Gua menyusul, berjalan mengikutinya dari belakang. Lalu lalang pengunjung yang semakin malam semakin terlihat ramai membuat gua sedikit kesulitan mengimbangi langkah Marcella, yang terlihat cukup lihai meliuk-liuk menghindari orang yang lewat atau ibu-ibu yang tengah tawar-menawar sambil berjongkok di tepi terpal alas dagangan.

“Misi.. permisi…” entah berapa kali gua mengulang kata-kata tersebut, yang nyatanya nggak ada efeknya sama sekali.

Marcella menghentikan langkahnya, ia menoleh ke arah gua yang semakin jauh tertinggal darinya. Dari tempat gua berdiri, terlihat ia seperti menunggu gua, tersenyum kemudian menjulurkan tangannya. Gua mempercepat langkah kemudian meraih genggamannya; “Lama deh…” ujarnya

Beberapa menit berikutnya, kami sudah berbelok ke jalan bercabang yang lebih kecil; gang menuju rumah Marcella. Di bibir gang terdapat beberapa motor yang diparkir berjajar memanjang, sepertinya motor-motor milik para pedagang yang sekarang tengah berjualan di pasar malam. Terlihat dari beberapa kardus dan box plastik yang terikat diatas jok motor yang terparkir.

Begitu memasuki gang sempit tersebut, Marcella lalu melepaskan genggamannya. Marcella masih berjalan didepan gua, karena dalam kondisi seperti sekarang ini (ada motor yang parkir disisi gang) nggak memungkinkan untuk dua orang jalan bersisian. Beberapa meter dari mulut gang, terlihat pagar rumah Marcella yang dulu begitu gua kenali, ia membuka pagarnya yang sepertinya sudah sedikit berkarat dan membiarkan gua masuk.

“Pake aja…” Ujarnya saat melihat gua berusaha melepas tali sepatu.

“Ntar kotor…” Gua bergeming

“Gapapa, emang udah kotor…” Jawabnya santai, sambil membuka pintu kayu rumahnya yang seperti dibiarkan tak terkunci.

Begitu masuk ke dalam, aroma aneh menyengat menusuk hidung, mirip seperti aroma ketika pertama kali masuk ke rumah kosong yang lama tak dihuni, tak ada ‘aroma’ kehidupan didalamnya.

“Naek ke atas aja…” Ujarnya ke gua yang masih berdiri mematung diambang pintu.

“Oh…” gua mengamini sambil kemudian menyusulnya, melalui ruang tamu.

Gua berjalan mengikutinya, melalui kamar yang sebelumnya merupakan kamar Opa. Gua sempat melirik kedalamnya; kosong, tanpa ada satu barangpun yang tersisa.

“Lo mau ngopi?” Marcella tiba-tiba bertanya, saat itu kami sudah berada diujung anak tangga yang menuju ke lantai dua rumahnya.

“Teh aja, kalo ada…”

Marcella nggak menjawab, ia hanya mengangguk, kemudian beralih menuju ke dapur. Sementara gua lalu menunggunya duduk salah satu anak tangga.

Beberapa menit berikutnya, ia kembali dengan membawa dua buah cangkir berwarna putih; “Lah, lo ngapain duduk disini?”

“Kalo diri capek…” Gua menjawab

“Ya kenapa nggak nunggu diatas?” Tanya-nya, kemudian melangkah naik keatas melalui tangga dimana gua masih duduk.

Suasana dilantai dua jauh berbanding terbalik dengan lantai dasar rumah Marcella. Disini lebih terang, terlihat sangat terawat, bersih dan wangi. Di ujung selasar tangga dilantai dua terdapat sebuah ruangan yang tebakan gua adalah kamar Marcella, disebelahnya terdapat pintu plastik yang sepertinya kamar mandi. Di sisi berlawan, terdapat pintu kayu dengan motif yang mirip dengan pintu utama yang ada dibawah. Marcella lalu memberikan salah satu cangkir berisi teh ke gua, kemudian membuka kunci pintu kayu tersebut, yang ternyata merupakan akses menuju ke balkon.

Ia lalu menarik satu-satunya kursi rotan yang berada di balkon tersebut dan memberikan isyarat agar gua duduk. Sementara ia bersandar pada pagar yang mengelilingi balkon berukuran nggak sampai 2x2meter tersebut.

Sambil menggenggam cangkir teh gua memandangi Marcella. Wajahnya terlihat sedikit lelah, namun tetap mampu menghadirkan kerinduan. Ia membelakangi gua, menatap ke arah cahaya terang yang berasal dari pasar malam yang tadi kami lalui.

Kami lalu tenggelam dalam hening.

“Katanya kangen… katanya mau ngobrol…” Marcella angkat bicara.
“Iya..”

“Kok dari tadi diem aja?”

“Iya..”

Kami lalu (kembali) tenggelam dalam hening.

“Cantik ya..” Marcella kembali buka suara, memecah keheningan yang terjadi cukup lama.

“Siapa?”

“Cewek lo.. siapa namanya tadi? Fani? Feni?”

“Fani…” Gua mengoreksi, lirih.

“Ooh, ketemu dimana?” Tanya Marcella tanpa berpaling ke gua, wajahnya masih mengarah ke luar.

Gua enggan menjawabnya. Kalau gua bilang ketemu waktu nge-kost pas kuliah, Marcella pasti curiga kalau gua pernah ‘mengkhianati’ dia. Pun, saat ini, informasi tersebut nggak ada pengaruhnya lagi untuk dia, untuk kami.

“Lo sehat kan, cell?” Tanya gua, mengalihkan topik pembicaraan

“Keliatannya?” Ia balik bertanya

“…”

“Badan sih sehat, nggak tau kalo mental gue gimana nih…” Imbuh Marcella, sambil kemudian menyeruput teh miliknya.

“…”

“Gue naif banget yah.. Awalnya gue mikir kalo gue bisa happy kalo ngeliat lo sama orang lain… kayak jargon-jargon penyanyi lawas itu lho rif, ‘aku bahagia, melihatnya bahagia’. Tapi ternyata, gue nggak bisa ya…”

“…”

“…Sebel banget gue, ngeliat cewek lo tadi pas di mall…” Ujarnya sambil tersenyum.

“…” Gua masih terdiam, nggak mampu merespon apa-apa.

Marcella lalu memutar tubuhnya, masih sambil bersandar di pagar, namun kali ini ia berdiri menatap gua. “Dada gue kayak nyesek gitu…” Ujarnya, matanya kemudian mulai berkaca-kaca.

“Harusnya gue kan yang disana, yang duduk sama lo, iya kan rif…” Lalu pecah tangisnya.

Gua meletakkan cangkir teh milik gua dilantai, kemudian berdiri dan meraih kedua bahunya. Tangisnya semakin menjadi saat kepalanya ia sandarkan di pundak gua, terasa cangkir teh yang masih ia genggam, mengganjal di dada.

“Gue benci banget sama keadaan, gue benci sama Fani, gue benci sama lo…” Ia bicara sambil terisak, sementara tangannya yang bebas, ia gunakan untuk memukul gua berkali-kali. Pukulannya pelan, bahkan lebih mirip belaian dari pada sebuuah pukulan. Namun, entah kenapa, setiap pukulan yang ia layangkan mampu membuat gua semakin merasa bersalah. Bersalah karena nggak mampu merubah ‘keadaan’ untuknya.

Ia lalu melepas pelukan gua, kemudian berjalan masuk kedalam.

Beberapa menit berikutnya, ia kembali keluar. Terlihat, ia telah menyeka air mata di wajahnya yang kini terlihat sembab. Ia duduk dilantai, mendekap kedua lututnya, ia meletakkan ponsel dilantai, layarnya menampilkan pemutar musik dengan sebuah cover album milik Jamie Scott.

“… She’s the girl in the corner, She’s the girl nobody loved…” Marcella menirukan suara Jamie Scott, suaranya terdengar parau, sehabis menangis

“… When you lose your way and the fight is gone, Your heart starts to break…” ia melanjutkan dan kembali terisak.

Gua lalu duduk disebelahnya, mematikan pemutar musik di ponsel, kemudian kembali memeluknya.

“Ssstt… udah-udah, suara lo kan jelek, ini malah nyanyi sambil nangis…” Gua mencoba menghiburnya

“Ahh… lo mah…” Marcella marajuk.

Namun terbukti, guyonan gua kemudian membuatnya terhibur dan ia mulai tertawa. Kami lalu tenggelam dalam obrolan tentang masa lalu, tentang suaranya yang sumbang, tentang hobi kita berdua makan di pinggir jalan dan selalu menghindar obrolan tentang masa depan.

Dan, ya.. kami berdua sambil berpelukan memandang langit, mengobati rindu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *