Unbreakable – Chapter 5

Kepedihan Untuk Kita

“Ntar sore gue balik ke bandung…”
Marcella yang tengah berjalan disebelah gua angkat bicara.

“Trus balik kesininya lagi kapan?”
Gua bertanya.

Marcella mengangkat bahunya.

“Gue bisa ketemu lo lagi kapan?”
Gua menambahkan.

Marcella kembali mengangkat kembali bahunya.

Gua menghentikan langkah, kemudian menatapnya berharap sebuah jawaban darinya. Seakan tau apa yang gua pikirkan, Marcella lalu buka suara; “Ya nggak tau gue bisa balik kapan, kalo tiap minggu balik kesini ya bo-cuan lah*”
*Bo-cuan = Kerugian, Rugi, Nggak ada manfaat

“Lo nya aja yang ke Bandung…” Tambahnya.

“…”

“…Kalo masih mau ketemu gue…”

“Ntar sore jam berapa? Naek Apa?” Gua bertanya.

“Soreeee, kalo dapet travel yang jam 5, kalo nggak dapet yang yang jam 9…”

“Yaudah ntar gue anterin..”

Marcella lalu mengangguk.

Gua lalu berjalan menyusuri gang yang pagi ini terlihat lengang. Sampah-sampah kardus dan plastik berserakan disepanjang jalan, sisa kemeriahan pasar semalam. Hingga ujung jalan, di sebuah tanah kosong yang semalam difungsikan sebagai tempat parkir motor, terlihat motor bebek gua berdiri sendirian. Terlihat Marcella melambaikan tangannya sebelum akhirnya gua berbalik untuk pulang.


Selama perjalanan pulang, ponsel gua beberapa kali bergetar didalam saku, Fani.

“Halo…” Suara Fani terdengar di ujung sana.

“Ya..” Gua menjawab

“Lo Dimana?” Fani bertanya

“Dirumah..”

“Dirumah mana?”

“Ya dirumah, emang dirumah mana lagi…”

“Gue dirumah lo…”

“What, yaudah tunggu…” Gua menjawab singkat, lalu memutuskan panggilan dan bergegas menuju kerumah.

Sepanjang sisa perjalanan, tak henti-hentinya gua merangkai kata-kata sebagai alasan untuk Fani nanti. Dan, tentu saja alasan untuk bokap-nyokap.

Fani duduk di bangku teras rumah gua, terlihat ia tengah memainkan ponselnya. Begitu gua masuk ke pelataran rumah, Fani berdiri, kemudian melangkah mendekat ke gua yang baru saja memarkir sepeda motor.

“Lo darimana?” Tanya-nya sambil sedikit berbisik, mungkin agar nggak terdengar bokap dan nyokap gua.

“Mmm… eee.. dari rumah Ilham…” Gua kembali berbohong. Iya gua tau, gua harus terus berbohong untuk menutupi kebohongan lainnya.

“Ooh… tapi gue udah telpon Ilham tadi, dia nggak tau lo dimana?” Fani kembali bertanya sambil bertilak pinggang, suaranya kali ini sedikit lebih keras dari sebelumnya.

“Mmm… eee… gue mandi dulu…” Gua mengelak, nggak mampu menjawab, kemudian ngeloror masuk kedalam. Sebelum masuk ke kamar, nyokap yang melihat kehadiran gua lalu bertanya; “Darimana, rif? udah ketemu Fani?”

“Udah..” gua menjawab singkat kemudian bergegas masuk kekamar.

Sebagian besar waktu saat mandi gua habiskan untuk kembali mencari alasan-alasan lain untuk Fani.

“Hape lo mana?” Ujar Fani, begitu gua selesai mandi dan duduk disebelahnya, di teras depan rumah.

“Dikamar, bentar gue ambil…” Gua bergegas bangkit untuk mengambil ponsel yang gua tinggal dikamar. Fani menyambar lengan gua; “Biar gue aja yang ngambil…” Ia lalu berdiri dan masuk kedalam rumah. Beberapa menit kemudian ia kembali keluar, ia berjalan sambil menatap ke layar ponsel gua, terlihat beberapa kali ia mengetap layarnya. Ia kembali duduk disebelah gua, tanpa bicara, ia lalu mengangkat ponsel gua dan memposisikannya di depan wajahnya. Dari tempat gua duduk sekarang, terlihat ia tengah melakukan sebuah panggilan dengan fitur loud speaker.

Terdengar suara nada sambung beberapa kali…

Disusul, suara sapaan lembut Marcella di ujung sana; “Halo…”

“Marcella ya?” Fani menyapa.

‘Mampus’ gua membatin dalam hati, sambil menutup wajah.

“Iya…” Terdengar Marcella menjawab di ujung sana.

“Sorry ganggu cell, gue Fani.. Mau nanya dong… semalem Arif sama lo?” Fani bertanya, suaranya cukup terdengar ramah untuk ukuran kompetitor.

Sempat senyap beberapa detik, sepertinya Marcella menyadari situasi yang terjadi sekarang dan gua rasa, Marcella tengah memikirkan jawaban yang aman. Entah aman untuknya atau aman untuk gua.

“Iya…” Marcella menjawab, nadanya terdengar yakin dan tegas.

“Ooh, oke makasih ya, cell..” Ucap Fani lalu memutuskan panggilan. ia lalu meletakkan ponsel gua di pangkuannya, kemudian berpangku tangan memandang ke arah gua. Pandangannya tajam, namun sambil tersenyum. Senyuman penuh kemarahan.

“Explain…” Ujarnya singkat, masih sambil menatap gua.

Gua nggak berani menatap matanya, sambil berpaling gua berusaha menjelaskan; “Sorry, Fan… gue cuma pengen ngobrol sama dia…”

“Bener? ngobrol doang?” Tanya Fani, ia berdiri lalu duduk disebelah kanan gua, membuat wajah gua menatap kearahnya. Sepertinya, ia ingin melihat ekspresi yang gua tampilkan.

Gua mengangguk pelan.

Kami lalu saling terdiam, Fani masih menatap gua, sementara gua kembali berpaling ke arah lain.

“Gimana nih?” Fani lalu buka suara.

Sementara gua hanya terdiam.

“Mau balik lagi ke ‘dia’?” Fani menambahkan, kata ‘dia’ merujuk ke sosok Marcella.
Gua nggak menjawab. Seandainya gua punya kekuatan untuk menjawab, gua pasti bilang “Iya, gua pengen balik sama Marcella”. Tapi, nyatanya nggak punya kekuatan tersebut.

“Gue jadi pengen ketemu Marcella deh…” Ujar Fani, sambil mengangkat kembali ponsel gua.

Gua mencegahnya dengan mengambil paksa ponsel gua yang berada ditangannya.

“Lo kenapa sih?” Tanyanya ke gua, sambil kembali mengambil ponsel yang sempat gua ambil. Ia lalu kembali melakukan panggilan, dengan metode yang sama dengan yang sebelumnya; di Loud speaker.

Nada sambung beberapa kali terdengar, kemudian kembali suara Marcella terdengar di ujung sana; “Halo…”

“Halo cell, its me… again…”

“Oh hi again, then…”

“Cell, bisa ketemuan nggak?” Terdengar Fani bertanya ke Marcella.

“Ketemuan?” Marcella memastikan

“Iya, bisa?”

“Bisa, kapan?”

“Sekarang, bisa?”

“Bisa, dimana?”

“Bebas, terserah lo…”

“Alright then, nanti gue sms alamatnya yes…” Ujar Marcella menutup pembicaraan kemudian mengakiri panggilan.

Fani lalu berdiri, melempar ponsel ke pangkuan gua, kemudian berjalan masuk kedalam rumah. Samar, terdengar suara Fani tengah berpamitan ke bokap-nyokap gua. Nggak lama berselang, Fani keluar dari rumah disusul bokap-nyokap gua; “Dianter Arif kan, fan?” Tanya nyokap gua ke Fani.

“Nggak, sendiri aja bu…” Jawabnya sambil mengumbar senyum.

“Anterin dong rif…” Nyokap lalu bicara ke gua, suaranya lembut dan mendamaikan.

Gua lalu bergegas masuk kedalam, mengambil jaket dan helm, kemudian buru-buru menyusul Fani yang sudah mulai berjalan cepat keluar dari rumah.

“Gue sendiri aja…” Ujarnya sambil tetap berjalan, sementara gua tepat disampingnya menuntun sepeda motor.

“Udah ayo naek…” Gua mengajaknya, sambil menyalakan mesin sepeda motor.

“Nggak!?” Fani bergeming.

“Fan.. please…” Gua memohon, sambil menyerahkan helm kearahnya.

Fani lalu menghentikan langkahnya. Ia sempat terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya mengambil helm yang gua sodorkan, lalu mengenakannya.

“Kemana?” Gua bertanya ke Fani begitu ia duduk di boncengan sepeda motor.

“Bentar…” Gua menoleh, Fani terlihat tengah mengetik sesuatu, sepertinya tengah menyepakati lokasi bertemu dengan Marcella. Dan, gua sama sekali nggak suka dengan situasi ini. Tapi, tentu saja gua nggak bisa berbuat apa-apa.

Fani lalu menyebutkan nama sebuah kafe ke gua, kata-katanya terdengar dingin.


Dari tempat gua dan Fani sekarang, terlihat Marcella duduk diteras sebuah kafe dibilangan sebuah mall di Jakarta Barat. Sebuah mall yang memang nggak terlalu ramai, karena (mungkin) kalah pamor dengan beberapa mall baru yang lebih lengkap dan lebih meriah.

Fani berjalan cepat didepan gua, Marcella berdiri begitu melihat kami berdua mendekat. Fani sempat melirik ke arah gua begitu melihat seorang perempuan berdiri dan memandang ke arah kami. Ia lalu menangkap gelagat kegugupan di wajah gua, yang (mungkin) memastikan perempuan tersebut adalah Marcella. Iya, Fani belumlah tau bagaimana rupa Marcella.

Saat itu, Marcella mengenakan ripped jeans biru dengan atasan kaos hitam polos. Yang secara kebetulan, setelan yang sama juga dikenakan oleh Fani, bedanya Fani mengenakan tambahan outer cardigan abu-abu dengan sebuah tas kecil menggantung di punggungnya.

kedua perempuan tersebut akhirnya saling bertatap muka. Marcella menyambut kedatangan Fani dengan sebuah senyuman sambil menyodorkan tangannya, mengajaknya bersalaman. Sementara, Fani mengabaikan senyum dan ajakan bersalaman dari Marcella. Fani, langsung duduk sambil menyilangkan kaki, persis dihadapannya.

Marcella masih berdiri, kemudian ia menatap gua sambil menggigit bibir bawahnya. Untuk, pertama kalinya, gua melihat wajah Marcella yang terlihat sangat gugup. Untuk mencairkan suasana, gua lalu masuk kedalam kafe, untuk memesan minuman. Mudah-mudahan kopi hangat mampu mendinginkan perasaaan. Sambil membawa kopi dalam gelas kertas, Gua lalu menarik kursi yang berada diantara mereka berdua, Fani tengah memijat-mijat kening diantara kedua matanya sementara Marcella memandang ke arah lain. Dari tempat gua berdiri, terlihat bahu Marcella naik-turun, lalu disusul suara isakan yang terdengar sangat lirih.

Entah percapan apa yang sudah terjadi diantara mereka. Percakapan yang gua yakini nggak terlalu panjang, mengingat gua meninggalkan mereka berdua hanya hitungan menit, untuk memesan kopi.

“Kenapa?” Gua bertanya lirih ke Marcella.

Marcella nggak menjawab, pandangannya masih menuju ke arah lain. Ia lalu menggeleng, enggan menjawab pertanyaan gua.

“Kenapa?” kali ini gua bertanya ke Fani yang saat ini menatap tajam ke arah Marcella

“Menurut lo kenapa?” Fani balik bertanya, nadanya meninggi.

Kami bertiga lalu terdiam cukup lama, hanya terdengar suara ketukan jari Fani diatas meja. Matanya masih menatap ke arah Marcella.

“Please ya Cell, gue rasa kita udah sama-sama dewasa deh…” Fani akhirnya buka suara, omongannya ditujukkan ke Marcella.

Marcella terlihat menganggukan kepalanya. Ia menyingkap rambut pendeknya, sambil menyeka air mata menggunakan tissue yang sedari tadi ia genggam, kemudian ia mulai bicara; “Well, sorry kalo gue salah.. sorry juga udah ganggu kalian…”

Marcella berdiri lalu hendak bergegas pergi. Gua lalu meraih lengannya, namun Marcella menepis tangan gua. Ia menatap gua sejenak dengan matanya yang masih berlinang kemudian pergi.

Gua berpaling ke arah Fani yang kali ini terlihat tertunduk lesu, kemudian bersiap menyusul Marcella.

“Kalo lo, nyusul dia, ngga usah balik ke gue…” Ucap Fani lirih

Gua kembali duduk, namun mata gua masih menatap Marcella yang berjalan cepat, semakin lama semakin menjauh.

Berkali-kali, Marcella kecewa akan perilaku gua yang ‘lembek’ kayak nggak punya ‘power’ memperjuangkan cinta untuknya.Nggak mampu memberinya penghiburan dikala ia sedih kala ditinggal keluarga satu-satunya, Nggak mampu meneruskan ‘perlawanan’ cinta yang mentok gara-gara Bokap, dan kali ini gua nggak mampu mencegah tangisnya terjadi lagi. Cinta, macam apa yang hanya membiarkan Marcella rela berkorban segalanya demi gua, bahkan jika bisa, ia mau menggadaikan ke-cina-annya, agamanya. Sedangkan gua? cuma mampu berharap dan nggak bisa berbuat apa-apa.

Fuck!

Gua lalu berdiri dan bergegas menyusul Marcella, menghampiri cinta yang seharusnya.

“Rif!!!” Fani memanggil gua.

Gua menoleh sebentar; “Sorry, Fan…” Ucap gua lirih.

Pagi itu, menjelang siang. Gua berlari sepanjang pelataran parkir sebuah mall, mengejar Marcella. Sambil berlari, tanpa gua sadari mata gua mulai berair, entah kenapa, hati gua terasa lega, seperti terbebas dari sebuah belenggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *